Jangan lewatkan

15 December 2015

Nggak Perlu Takut Investasi Properti, Ini Cara Menghadapi Pengembang Nakal

Investasi properti kian jadi primadona, karena yang namanya tanah atau bangunan nilainya nggak pernah turun. Nggak heran kalau banyak orang yang pengin mencicipi sepotong untung dari kue bernama pasar properti.

Saat ekonomi melemah, pasar properti biasanya juga ikutan lesu. Tapi kondisi ini nggak bakal lama.

Prediksi bos Lippo Group, James Riady, pertumbuhan ekonomi 2016 bakal tumbuh di atas 5 persen dan untuk pasar properti, bisa naik hingga 8 – 9 persen. Jadi jangan jiper duluan buat investasi properti.

Tapi, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat kamu memutuskan buat berinvestasi properti. Track record pengembang adalah salah satunya. Bisa-bisa harapan mereguk untung investasi malah berubah jadi buntung kalau sampai ketemu pengembang nakal.



Asal Usul Developer Nakal
Yang namanya sektor bisnis pasti ada saja oknum yang memanfaatkan celah buat menuai untung lebih. Istilah pengembang nakal dipakai untuk menyebut pengembang yang melanggar etika profesi yang diterapkan oleh Asosiasi perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI). Asosiasi ini merupakan wadah bagi para pengembang berkumpul.

Pengembang memang nggak bisa semena-mena terhadap konsumen. Bentuk pelanggaran yang sering terjadi bisa bermacam-macam, mulai dari melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), hingga janji palsu ketika memasarkan produk. Ini termasuk memberi iklan palsu di brosur atau wanprestasi soal pemberian fasilitas yang nggak sesuai dalam perjanjian.

Cara Menghadapi Pengembang Nakal

Makanya, biar nggak jadi buntung kita wajib meningkatkan kewaspadaan jika sewaktu-waktu menghadapi pengembang nakal. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

1. Gali Informasi

Kejahatan bukan cuma karena niat pelaku, tapi karena ada kesempatan. Kadang pengembang nakal beraksi dengan memanfaatkan minimnya pengetahuan si konsumen soal bisnis properti. Kita juga kudu melek sama hukum saat bertransaksi properti.

Maka dari itu, kamu harus cermat dalam mengumpulkan data dan menambah pengetahuan soal investasi properti. Ini merupakan modal penting bagi calon investor selain duit. Sebagai langkah awal, kamu bisa menggali informasi di Dinas Tata Kota untuk mengetahui, apakah suatu proyek sudah mengantongi izin dari pemerintah.

2. Rekam Jejak Pengembang

Riset secara online bisa jadi cara paling bagus untuk mencari track record pengembang. Pertimbangkan juga performa dan reputasi si pengembang sebelum deal dengan mereka.

Nama besar belum tentu memiliki performa yang bagus. Yang pasti, pengembang yang baik biasanya terdaftar juga di APERSI atau Real Estate Indonesia (REI), karena bakalan diawasi dengan ketat.

Menilik sejarah pengembang bisa dilakukan dengan melihat proyek-proyek terdahulu. Cek apakah ada proyek yang pernah mangkrak karena suatu masalah, misalnya pembangunan di atas tanah sengketa.

3. Tergoda Rayuan

Ini yang kadang susah. Banyak orang terjebak masalah karena rayuan maut pihak marketing. Jangan buru-buru menerima tawaran, mendingan ambil waktu buat riset dulu.

Dan janganlah pula kamu tergoda gambar ilustrasi dalam brosur. Brosur memang didesain untuk memikat konsumen. Yang penting kamu harus pastikan bahwa sarana dan prasarana yang ditawarkan memang benar-benar sesuai dengan iklan.

4. Value Added

Ini berarti kamu diharuskan mengecek ke lapangan. Lakukan survei kecil-kecilan. Apakah tanah yang dibangun dahulu bekas rawa? Bagaimana perkembangan harga tanah dari tahun ke tahun? Apakah menjanjikan untung?

Cari tahu juga apakah lingkungan sekitar mendukung untuk perkembangan keluarga, khususnya sang buah hati. Hal ini bisa dilihat dari rencana pembangunan yang disediakan oleh pengembang. Dari situ bisa diprediksi prospek properti yang akan dibeli untuk 5 hingga 10 tahun mendatang.

5. Kelengkapan Surat

Cek juga apakah proyek tersebut sudah mengantongi Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah (SIPPT) hingga Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Pastikan juga untuk mengecek status lahan yang dipakai.

Buat menghindari hal-hal yang nggak diinginkan, kamu wajib mengecek Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) yang dikeluarkan pihak developer. Hal ini sebagai langkah antisipasi jika suatu proyek molor dari jadwal pembangunan atau jika si developer ingkar janji.

Kalau surat izin lengkap, proses jual beli rumah pun bakal lebih gampang jika suatu saat nanti  mau dijual. Harga jual pun bakal ikut meroket.

Apa Yang Bisa Dilakukan?

Apa yang bisa dilakukan kalau sudah kadung jadi korban pengembang nakal? Kalo memang kamu memiliki bukti kuat sebagai korban, kamu bisa melapor ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).

BPSK biasanya akan memulai dengan pendekatan kekeluargaan. Tapi jika buntu, BPSK bisa melimpahkan pelanggaran tersebut ke pihak berwajib.

Bisa juga melaporkan pengembang ke APERSI untuk ditelusuri. Walaupun APERSI atau REI nggak ikut-ikutan masuk ke ranah hukum, mereka bakal ikut mendampingi dan membuka ruang musyawarah.

Investasi properti membutuhkan uang yang nggak sedikit. So, daripada buntung gara-gara ulah pengembang yang nggak jelas asal usulnya, lebih baik bekerja sama dengan pengembang yang terdaftar di asosiasi. 

Sumber : Duit Pintar

Sedang cari rumah ? Rumah di jual di Bogor disini juga ada




[Baca: Lakukan Ini Kalau Sudah Akad Kredit dengan Bank tapi Developer Ingkar Janji]




Tanggal dan Hari ini

Delicious Save this on Delicious
Find out the Warren Buffett's stock holdings This site is listed under Marketing and Advertising Directory