Jangan lewatkan

1 October 2016

Kendala Pembangunan Rumah Subsidi

RumahDijual - Program rumah subsidi jelas sangat membantu masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah (MBR), untuk memiliki rumah.

Pemerintah bekerja sama dengan bank nasional menyelenggarakan program rumah subsidi. Rumah yang ditujukan untuk MBR ini dijual dengan harga maksimal Rp133 Juta, DP rendah, dan bunga cicilan yang tetap hingga lunas.


Syarat utamanya, hanya masyarakat yang belum memiliki rumah dan memiliki gaji di bawah limit tertentu (tergantung wilayah) yang diperbolehkan membeli rumah ini. Program ini diadakan untuk mendukung program sejuta rumah yang sedang digalakkan Pemerintah.


Meski demikian, pelaksanaan program rumah subsidi ini bukan tanpa kekurangan, khususnya dari segi pengembang.

Ketua REI Jawa Barat (Jabar), Irfan Firmansyah, menjelaskan bahwa sedikitnya ada tiga hal yang menjadi kendala dari kaca mata pengembang.


“Paling banyak konsumen adalah buruh, pegawai negeri, dan golongan khusus (TNI, Polisi, dll) dengan penghasilan di bawah Rp4 Juta (untuk Jawa Barat),” jelasnya.


Sayangnya, ada profesi lain yang tidak bisa memanfaatkan program ini karena tidak memiliki laporan pemasukan (gaji) yang jelas. Dampaknya, mereka yang berada pada kategori ini tidak dapat dibiayai oleh bank karena beresiko tinggi.

“Profesi-profesi tersebut antara lain penjual rokok, pedagang kaki lima, dan semacamnya,” Irfan memaparkan.


Selain peluang rumah subsidi yang belum bisa dinikmati oleh kalangan profesi seperti di atas, kendala lain untuk rumah subsidi adalah ketersediaan lahan.

Lahan yang berada pada wilayah ideal seperti dekat dengan sarana transportasi, pusat kota, dan lainnya harganya sudah tinggi. Akibatnya, modal untuk membangun rumah subsidi pun lebih besar dari harga jualnya.


Untuk saat ini, rumah subsidi ‘terpaksa’ dibangun di kawasan yang agak sulit dijangkau dan jauh dari pusat kota, seperti Cikampek, Karawang, Sukabumi, Kabupaten Bandung, maupun Tasikmalaya.


“Seperti di Bekasi, banyak pengembang yang terbatasi oleh harga jual lahan. Ini menghambat pencapaian target sejuta rumah,” ujar Irfan.

Pemerintah memasang target pembangunan rumah subsidi pada akhir 2016 sebanyak 50 ribu rumah.


“Target tahun 2016 adalah 50 ribu rumah. Di awal tahun baru dibangun 25 ribu, sementara per Juni-Juli baru 8 ribu unit. Ini salah satunya karena keterbatasan lahan,” ia menjelaskan.

Kendala terakhir adalah proses perizinan. Menurut Irfan, terlalu banyak pintu yang harus dilalui untuk mendapatkan izin membangun.


“Makin lama waktunya, makin tinggi biaya yang dikeluarkan. Belum lagi ada beban bunga, biaya, dan beban investasi,” ujarnya.


Untuk itu, Irfan berharap Pemerintah bisa segera merealisasikan pemangkasan proses perizinan agar target sejuta rumah bisa tercapai.

Info lengkap: http://rumahdijual.com/site-news-feedback/1698489-pengembang-ungkap-kendala-pembangunan-rumah-subsidi.html




Tanggal dan Hari ini

Delicious Save this on Delicious
Find out the Warren Buffett's stock holdings This site is listed under Marketing and Advertising Directory